Na' Nyare' Ape Yak?

TAHUN BARU IMLEK

Sebagai kota dengan setengah populasi Tinghoa, sudah pasti Tahun Baru Imlek menjadi begitu meriah di Singkawang. Banyak hal yang dapat dijumpai ketika Tahun Baru Imlek seperti pawai lampion, pesta mercon, dan macam-macam lagi.

Tahun Baru Imlek dirayakan juga sebagai perayaan lahirnya Kong Hu Chu yang lahir pada tahun 551 SM. Sebab itu, penanggalan Imlek dan Masehi berselisih 551 tahun. Perayaan ini dianut oleh orang-orang yang berkeyakinan Kong Hu Cu, Tao, dan Budha. 

Terdapat beberapa tradisi yang biasanya dijumpai di dalam perayaan tahun baru imlek. Misalnya, ada aksesoris Bunga Mei Hua. Bunga ini, di negara China, merupakan penanda datangnya musim semi. Bunga-bunga semacam ini dapat dijumpai pula ketika perayaan Tahun Baru Imlek di Singkawang, meski sebagian besar bukan merupakan bunga asli. Lazimnya, digunakan sebagai penghias rumah. 

Bila kita bertandang ke rumah warga Tiongha saat Tahun Baru Imlek, sajian keruk, apel, pir, akan disuguhkan. Buahan-buahan tersebut penanda atas kesuburan dan nikmat rezeki yang didapatkan. Jeruk juga akan disajikan di altar dekat tempat berdoa hingga hari puncak Imlek atau Cap Go Meh. Yang paling khas adalah kue keranjang. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa anglo di dalam dapur di setiap rumah didiami oleh Dewa Tungku, dewa yang dikirim oleh Raja Surga untuk mengawasi para penghuni rumah ketika menyiapkan makanan. Enam hari sebelum Tahun Baru Imlek, diyakini dewa tersebut akan kembali ke surga untuk memberi laporan. Agar laporan yang disampaikan selalu menyenangkan, kepada Dewa Tungku disajikan dodol manis yang disediakan di dalam keranjang. Sebab itu namanya kue keranjang. 

Selain kue keranjang, biasanya tamu juga akan mendapat angpao dari tuan rumah. Angpao dipercaya dapat membawa keberuntungan sekaligus dapat melindungi anak-anak dari roh jahat. Uang di dalam bahasa Tionghoa disebut sebagai qian. Secara harfiah qian dapat dimaknai sebagai “sesuatu untuk menekan roh jahat” atau yang sering diistilahkan ya sui qian.

Hal menarik lainnya adalah pawai lampion merah. Konon, lampion merah digunakan untuk menangkal nian, binatang bias zaman dahulu. Nian takut terhadap benda berwarna merah. Nian juga takut terhadap keributan sehingga akan selalu ada pesta mercon ketika Imlek. Selain itu, ada pula atraksi yang telah cukup dikenal yakni atraksi barongsai dan naga. 

Kemeriahan Tahun Baru Imlek di Singkawang biasanya berlangsung hingga dua minggu, hingga hari ke lima belas, hari puncak Cap Go Meh. Selama lima belas hari tersebut, masyarakat Tionghoa mempersilakan tamu untuk beramah-tamah ke rumah mereka, meskipun tamu tersebut berasal dari kalangan non-Tionghoa. Hal tersebut lazim dilakukan oleh masyarakat Singkawang meski berbeda kepercayaan. Suatu hal yang menunjukkan bahwa toleransi di Singkawang begitu terjaga dan begitu besar nilainya. (Abroorza AY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar