Na' Nyare' Ape Yak?

MASJID RAYA SINGKAWANG


Jika bicara tentang ikon Kota Singkawang, Masjid Raya Singkawang tidak dapat dihindarkan. Meski saat ini, karena renovasi total tahun 2007, bangunan masjid masih berusia baru, sejatinya Masjid Raya merupakan masjid tertua di kota seribu kelenteng. Tanda itu dapat dilihat pada empat pilar di dalam masjid yang dulunya adalah pilar utama bangunan masjid. Sekarang ini, pilar-pilar tersebut sekadar menjadi aksesoris pengingat sejarah masjid.

Tahun 1850-an, Singkawang merupakan desa yang menjadi pintu masuk bagi para penambang emas di Monterado. Aktivitas jual beli pun tumbuh di Singkawang. Para pedagang berasal dari dalam maupun luar negeri. Dari luar negeri, selain China, terdapat pula pedagang yang berasal dari India. Satu di antara saudagar India tersebut, adalah Bawasahid Marican. Bawasahid Marican mulai mendirikan rumah di kawasan yang sekarang ini berada di depan Masjid Raya.Oleh Pemerintah Belanda, tahun 1875, ia pun diangkat menjadi Kapitan Tambi. Sambil berdagang, sambil pula Bawasahid Marican menyiarkan agama Islam. Saat itu di Singkawang, belum ada satu pun masjid yang berdiri. Bawasahid Marican memutuskan untuk membangun masjid tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tahun 1875, tahun ia diangkat menjadi Kapitan dan sebelum kembali ke India, Bawasahid Marican mendirikan masjid. Bentuknya sederhana. Hanya berdinding dan bertiang kayu. Ia juga yang menentukan arah kiblat –belum diketahui bagaimana cara penghitungannya. Konon, kiblat Masjid Raya hingga saat ini tidak pernah berubah, menandakan kecermatan penghitungannya–.

Masjid Raya saat itu dikenal dengan “masjid tambi”. Tahun 1914, Masjid Raya dipugar ulang. Hanya memperbaiki bagian yang rusak dan sedikit meluaskan bangunan. Dalam tahun-tahun tersebut pula Bawasahid Marican meninggal dunia. Diyakini, makamnya terletak di wilayah pemakaman muslim di depan Gereja St. Fransiskus Asisi. Lalu, terjadi kebakaran besar yang melanda hampir seluruh Kota Singkawang tahun 1937 (sebagian sumber menyatakan, kebakaran terjadi tahun 1927). Nyaris setengah kota habis menjadi arang dan puing. Masjid Raya ikut tersentuh amukan api. Keseluruhan bangunannya habis, hanya menyisakan serpihan tiang penopang yang masih menancap dan sumur yang terletak di depan masjid.

Pembangunan kembali dilaksanakan. Ahli waris Bawasahid Marican, beserta masyarakat muslim Singkawang, bahu-membahu mendirikannya. Para ahli waris mewakafkan tanah untuk menjadi milik masjid. Sebagian lagi tanah, yang terletak di utara, merupakan wakaf dari orang Padang yang hingga kini belum diketahui namanya.Masjid dibangun dengan menggunakan bahan bangunan yang lebih kuat. Dindingnya dengan batu dan semen. Pilar utamanya adalah empat kayu belian. Luasnya ditambah.

Tahun 1956-1959, menara di bagian selatan dibangun, dikerjakan dalam jangka waktu sekitar satu-dua tahun. Dananya didapat dari sumbangan masyarakat muslim dan beberapa instansi pemerintahan. Tinggi menara tersebut sekitar 15 meter. Sirine militer diletakkan di bagian paling atas menara. Renovasi kembali dilakukan pada tahun 1984-1985. Dengan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sambas, bagian utara dan selatan diperlebar. Tahun 1991, Yayasan Masjid Raya disahkan. Beberapa bangunan untuk pendidikan Al-Quran didirikan di bagian barat masjid. Masuk dalam abad ke-21, bangunan mulai menua. Beberapa bagian mulai retak. Beberapa sudut mulai bocor. Kondisi tersebut memunculkan keputusan renovasi. Tahun 2007, tepatnya tanggal 20 Januari, peletakkan batu pertama renovasi Masjid Raya Singkawang dilaksanakan. Peletakkannya dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Barat di kala itu, Usman Djafar. Lalu, tanggal 17 November 2007, dipimpin oleh H. Ruslan Karim, dengan hanya tiga orang pekerja bangunan, Masjid Raya Singkawang memulai renovasinya.

Renovasi total menjadikan bangunan Masjid Raya menjadi lebih menarik. Terdapat dua menara baru meski menara lama masih dipertahankan. Warna hijau tua begitu dominan pada setiap dinding. Daya tampung masjid menjadi lebih banyak karena masjid dikembangkan menjadi dua lantai. Kubah dicat emas. Bagi para wisatawan, Masjid Raya Singkawang selalu menjadi salah satu lokasi favorit untuk berfoto. Bagi umat muslim, tentu juga menjadi tempat yang baik untuk beribadah. Saat ini, Masjid Raya sering menjadi pusat kegiatan umat muslim Singkawang, terutama pada hari-hari besar umat muslim Singkawang. (Abroorza AY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar