Na' Nyare' Ape Yak?

FESTIVAL CAP GO MEH

Singkawang merupakan kota di Indonesia yang paling banyak diisi oleh masyarakat etnis Tionghoa. Setengah populasi penduduk di Kota Singkawang merupakan Tionghoa. Karena itu, selain rumah ibadah, budaya-budaya Tionghoa akan begitu terasa begitu memasuki kota ini. Beberapa perayaaan tradisi etnis Tionghoa rutin dilaksanakan pula. Satu di antaranya adalah Cap Go Meh. Cap Go Meh merupakan festival penyucian yang dirayakan selama lima belas hari setelah Tahun Baru Imlek. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian. Cap menunjukkan angka sepuluh, Go menunjukkan angka lima, dan Meh yang berarti Malam. 

Perayaan Cap Go Meh biasanya akan begitu ramai pada hari ke-14 dan 15. Pada malam ke-14, tatung atau dukun Tionghoa akan turun ke jalan dan berkeliling sebagai simbol pembersihan atau penyucian. Pada hari ke-15 akan diadakan parade serta pertunjukan tatung. Kota Singkawang akan penuh sesak. Biasanya, parade dilakukan di jalan-jalan protokoler pusat kota. Tradisi ini sempat dilarang di masa pemerintahan orde baru. Pemerintah Abdurrahman Wahid yang memberikan pengakuan terhadap masyarakat Tionghoa, eksistensi dan kepercayaannya, menjadikan tradisi Tionghoa hidup kembali, meramaikan kekayaan budaya Indonesia. Para wisatawan lokal, dalam negeri, bahkan manca negara, biasanya turut menyaksikan parade ini. Cap Go Meh di Singkawang merupakan yang terakbar dibanding kota-kota lain di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Yang ditampilkan di dalam parade adalah, para tatung, yang berjumlah ratusan sebab mewakili berbagai vihara di Singkawang, akan menampilkan atraksi-atraksi memukau ala debus. Tatung dapat juga dianggap sebagai dukun sebab dipercaya dapat membantu mengobati, mengusir roh jahat, dan bahkan dimintai nasihat. 

Pada Cap Go Meh, tubuh para tatung dipercaya dimasuki oleh arwah para leluhur. Mereka akan mempertunjukkan kemampuannya pada saat tubuh mereka sedang dirasuki oleh arwah leluhur. Benda-benda tajam ditancapkan ke beberapa bagian tubuh mereka hingga tembus.Misalnya, besi panjang ditusukkan ke pipinya hingga tembus masuk kedalam mulut. Mereka juga akan berdiri di atas golok atau parang yang tajam-tajam. 

Terdapat juga atraksi barongsai. Atraksi ini mungkin sudah dikenal banyak orang. Terdapat dua orang yang akan masuk kedalam kostum berbentuk mirip singa dan akan melompat-lompat lincah. Ada pula arak-arakan naga. Naga ini digerakkan beberapa orang dengan menggunakan tongkat yang dihubungkan ke beberapa titik pada badan boneka naga. Pada akhir Cap Go Meh, naga-naga yang ditampilkan akan dibakar.

Festival Cap Go Meh, oleh pemerintah setempat, dijadikan sebagai festival rutin sebagai bagian dari daya tarik wisata Kota Singkawang. Disarankan, jika ingin menyaksikan Festival Cap Go Meh di Singkawang, sebaiknya telah memesan penginapan di Singkawangbeberapa hari sebelum acara. (Abroorza AY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar